Surat Terbuka Pegiat Pendidikan Kota Tasik Bagi Prabowo-Gibran, Ditengah Ironi Hardiknas 2026
Kota.Tasik (kilangbara.com)-Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 rupanya diwarnai dengan nada getir. Padahal, seharusnya bisa menjadi momentum untuk merenungkan kembali arah. Serta juga keberpihakan dunia pendidikan dinegeri ini.
“Namun, realitas yang dihadapi pada hari ini malah memunculkan ironi yang sulit diabaikan,’heran Pegiat Pendidikan Kota Tasikmalaya, Deden Tazdad Hubban, Sabtu (02/4/2026).
Sehingga, kata Deden. Akhirnya, dirinya pun langsung melayangkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Salah satu dalam isi surat itu, menyoroti ironi kesejahteraan guru yang dinilai masih tertinggal ditengah tuntutan profesionalisme.
Deden menegaskan, bahwa sejatinya Hardiknas tersebut seharusnya menjadi ruang refleksi bersama atas arah dan keberpihakan dunia pendidikan nasional. Tapi, fakta dilapangan justru memperlihatkan kontras yang sangat mencolok antara tuntutan pengabdian tanpa batas terhadap guru. Serta, penghargaan yang belum sepadan secara ekonomi maupun sosial.
“Para penyandang gelar S.Pd yang setiap hari berdiri didepan kelas, membentuk karakter dan masa depan generasi bangsa, nyatanya masih berkutat pada persoalan kesejahteraan,”ujarnya.

Apalagi, kata Deden. Dalam kondisi sekarang ini, terasa semakin kontras ketika gelar M.Pd yang merepresentasikan peningkatan kompetensi, dedikasi, dan keilmuan. Rupanya, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan.
Tapi disaat yang sama, muncul fenomena dimana profesi lain atau program tertentu seperti Pengelola SPPG maupun Program MBG. Ironisnya, justru menawarkan kesejahteraan yang lebih menjanjikan dalam waktu yang relatif singkat.
Hal itu bukan soal membandingkan secara sempit, melainkan tentang keadilan dan keberpihakan. Pendidikan itu, adalah sebuah fondasi utama bangsa. Jika, para pendidiknya belum sejahtera, maka bagaimana mungkin kualitas pendidikan bisa melompat jauh ke depan?
HARDIKNAS 2026, seharusnya menjadi panggilan bersama. Bahwa, sudah saatnya negara dan seluruh pemangku kebijakan menempatkan guru pada posisi yang semestinya. Bukan, hanya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dalam retorika. Tapi, sebagai profesi mulia yang dihargai secara nyata, baik secara sosial maupun ekonomi.
“Mari, kita kembalikan marwah pendidikan. Karena sejatinya, kemajuan bangsa tidak pernah lahir dari pengabaian terhadap gurunya,”pintanya.
*Deden Tazdad Hubban*

