Perpanjangan PSBB, Bukti Pemkot Tasik Tidak Peka, Dengan Kondisi Warga

Kota.Tasik (kilangbara.com)-Kebiijakan Pemkot Tasikmalaya memperpanjang PSBB, 20-29 Mei 2020.Tentunya merupakan kebijakan yang tidak peka.Dengan kondisi masyarakat yang akan bersuka cita menyambut hari kemenangan Idul Fitri.Namun justru ada kebijakan yang justru malah segala hal dibatasi.Termasuk jumlah ruas jalan yang ditutup akan ditambah.

“Artinya masyarakat akan semakin kesulitan untuk bisa mengakses berbagai tempat tujuan.Para pedagang kecil akan semakin kesulitan mencari lahan tempat jualan.Karena areanya semakin dipersempit dengan kebijakan penutupan jalan,”heran pengamat sosial Tasikmalaya, Ir H Nanang Nurjamil, Senin (18/05/2020).

Fakta empiris kata Nanang di beberapa kota menunjukkan bahwa penerapan PSBB tidak efektif.Justru pasien positif Covid-19 malah semakin bertambah.Karena hal yang harus ditingkatkan “tracing, treatmen, testing” bukan malah memperpanjang PSBB.Sebab, percuma PSBB diperpanjang, kalau hanya sekedar menutup jalan, mencegah kendaraan masuk, tapi orang malah diloloskan.Memangnya yang akan terkena corona kendaraan bukan orang?.

Seharusnya, Pemkot dan Gugus Tugas Covid-19 mestinya melihat realitia dilapangan secara arif dan bijak.Selama PSBB berjalan, justru faktanya sejumlah jalan tetap macet, pengunjung mall tetap berdesakan.Dirinya melihat langsung ada sebuah mall yang dari luar kelihatan sepi/tutup, setelah dicek ke atas ternyata ramai pengunjung.

Dirinya menyarankan lebih baik PSBB tidak usah diperpanjang, maksimalkan saja tracing, testing dan treatmen (Pelacakan, PemeriksaanPencegahan atau Pengobatan).Pasalnya Faktanya penambahan pasien positif Covid-19 terjadi di Puskesmas, bukan di ruang publik.Perlu diingat, sudah 5 hari menjelang Idul Fitri, masyarakat butuh bekal untuk berlebaran, Pemkot harus memiliki “sense of crisis” secara “holistic” (menyeluruh) jangan hanya dari saru sisi untuk kepentingan pencegahan penularan Covid-19.

Semuanya baru hanya sekedar upaya dan prediksi, jangan memutus mata rantai Covid-19.Tapi memutus mata pencahatian masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap, selain dari berjualan, pikirkan bagaimana dengan nasib 2000 pekerja yang dirumahkan, ada 500 lebih driver ojol, 4.281 PKL se Kota Tasikmalaya, belum lagi para pekerja opang, sopir angkot, delman, tukang becak.

“Ada bansos malah banyak yg tidak tepat sasaran, karena input datanya katanya “ngaco” dan amburadul. Kesalahan pemerintah jangan rakyat yang menjadi korban.Sekali lagi tidak usah diperpanjang PSBB, maksimalkan saja trace, test dan treat,”pintanya.(AR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!