Birokrasi “Acakadut”, Walikota Tasik Tidak Punya Roadmap Pemimpin, DPRD Enggak Berfungsi
Kota.Tasik (kilangbara.com)-Sejak, Viman Alfarizi Ramadhan menjabat sebagai Walikota Tasikmalaya. Rupanya, telah banyak dihujam oleh berbagai kritikan pedas. Secara, bertubi-tubi dari berbagai ragam masyarakat. Terhadap, kepemimpinannya sebagai nahkoda di Pemkot Tasikmalaya.
Kali ini, kritikan itu datang dari dari eksponen 1996, Habibudin. Pria berpeci tersebut menilai Walikota Tasikmalaya tidak punya roadmap pemimpin. Sehingga, tak jelas dan tidak punya kapasitas kapabilitas untuk memimpin. Apalagi, ketika ditanya apa capainya selama ini?tidak ada, sebab tidak bekerja.
Karena, dibilang tidak kerja tapi punya fasilitas, dibilang kerja tidak kelihatan hasilnya. Apalagi, sekarang ini yang lebih menonjol itu malah Wakil Walikotanya. Apakah menonjolnya Wakil, kebutuhan atau disuruh Walikota, sebab Walikota memang tidak mampu.
“Akhirnya, jadi korban itu masyarakat dan sejumlah ASN. Bahkan, akumulasi ketidakmampuan Walikota tersebut. Ketika, para ASN tersebut telah dipotong TPP,”bebernya. Didampingi, Iwan Padi dan Asep Gatot. Saat, ditemui di Jasmine Cafe, Rabu (16/9/2026).

Kata Habib, sudah tatanan birokrosi “Acakaduk” (acak-acakan). Ditambah lagi, ada dugaan hadirya pasukan dibelakang Walikota. Notabenenya, mengatas namakan Walikota dan keluarganya. Disunyalir, malah ikut bermain diberbagai sektor, ada broker proyek dan lainnya.
Sekarang ini, sudah jelas susah mengejar kinerja Walikota tersebut. Karena, memang tidak bekerja dan tak mampu makanya mau dikejar apanya?akhirnya tak heran malah dimanfaatkan oleh orang sekelilingnya.
Seharusnya, DPRD bisa berikan masukan dan evaluasi total persoalan kinerja Walikota. Namun, anehnya DPRD tidak ada yang berani ngomong. Sehingga tidak berfungsi sama sekali. Kemarin, ada yang ngomong cuma terkait TPP saja. Padahal, legislatif itu punya kewenangam dalam pengawasan dan anggaran.
Tadinya, masyarakat berharap kepada Walikota. Karena, punya kedekatan secara
politik struktural dengan Gubernur Jabar, KDM dan Presiden Prabowo. Namun, faktanya sampai sekarang jauh dari ekspektasi masyarakat.
“Saat ini, transfer dari Provinsi Jabar jadi alasan buat Walikota tidak lakukan apa-apa. Tunggu, transfer tidak ada dan tidak bisa melakukan apapun. Karena, beliau seorang pelari yang tidak ada finishnya,”terangnya.
Habib menambahkan, kalau terus dibiarkan kuatir akan ada akumulasi kecewa dari warga. Tidak, tertutup kemungkinan ada gerakan dari masyarakat turun ke jalan. Tentunya, semua kritikan itu wajar kepada Walikota Tasikmalaya, bukan personal.
“Semua kritikan itu sebagai pengingat saja. Tidak ada rasa kebencian, tapi justru sebagai bentuk perhatian dari elemen masyarakat. Sehingga, jadikan kritikan itu sebagai vitamin, jangan sampai terus baper donk,”pintanya.(AR)

