Ganggu Kenyamanan!Forsil : Pemkot Tasik Harus Ambil Tindakan Nyata di Kawasan Dadaha
Kota.Tasik (kilangbara.com)-Kawasan Olaraga Dadaha Kota Tasikmalaya kembali, jadi sorotan. Kali ini, datang dari
Forum Silaturahmi Rukun Tetangga dan Rukun Warga (Forsil RTRW) Kota Tasikmalaya. Forum itu, telah menyoroti prihal urgensi revitalisasi shelter Dadaha, penataan alur lalu lintas, penertiban PKL dan dan optimalisasi parkir.
Sehingga, Forsil RTRW kini telah mendesak kepada Pemkot Tasikmalaya dan DPRD Kota Tasikmalaya. Supaya, bisa segera mengambil tindakan yang lebih nyata. Terhadap, kondisi Kawasan Olaraga Dadaha agar bisa lebih nyaman lagi.
Karena, kawasan itu telah lama menjadi jantung aktivitas warga Kota Tasikmalaya. Baik untuk berolahraga, berekreasi, maupun menggerakkan roda ekonomi lokal. Tentunya, upaya penataan yang selama ini dilakukan oleh Pemkot Tasikmalaya diapresiasi.
“Tapi berdasarkan kondisi di lapangan, terdapat beberapa persoalan krusial yang justru mengganggu kenyamanan pengunjung dan berpotensi merugikan daerah,”ujar Ketua Umum Forsil RTRW Kota Tasikmalaya, Deden Tazdad Hubban, Rabu (7/10/2026).
Sehingga tutur Deden yang didampingi Sekretaris Umum Forsil, Tatan Surahman. Kini, telah mendesak supaya Pemkot Tasikmalaya. Agar, bisa segera mengambil tindakan nyata terkait 3 (tiga) poin utama berikut :
1. Pembukaan Jalur Lalu Lintas yang Tidak Logis
Masalah : Kebijakan penutupan atau pengalihan beberapa jalur akses utama di dalam komplek Dadaha dinilai tidak logis dan membingungkan. Hal ini, memicu kemacetan parah di titik-titik tertentu, menyulitkan akses kendaraan darurat, dan mengurangi kenyamanan aksesibilitas pengunjung.
Desakan : meminta Dinas Perhubungan dan instansi terkait untuk mengevaluasi ulang tata alur kendaraan dan segera membuka kembali jalur lalu lintas yang mati agar sirkulasi kendaraan kembali normal, logis, dan lancar.
2. Penataan dan Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL).
Masalah : Keberadaan PKL yang tidak teratur di luar area shelter resmi telah merenggut hak pejalan kaki, mempersempit bahu jalan, dan merusak estetika kawasan Dadaha.
Desakan : Lakukan penertiban yang tegas namun humanis oleh Satpol PP, Pastikan seluruh pedagang masuk dan memanfaatkan fasilitas shelter yang telah disediakan secara tertib agar kawasan Dadaha bersih, rapi, dan nyaman bagi pengunjung.
3. Transparansi Retribusi PKL dan Pengelolaan Parkir Komplek
Masalah : Pengelolaan parkir dan retribusi pedagang di komplek Dadaha disinyalir masih bocor dan belum terkelola dengan sistem yang modern dan transparan. Kondisi ini memicu suburnya parkir liar dan tarif di luar ketentuan yang meresahkan warga.
Desakan : mendesak diterapkannya sistem retribusi dan parkir elektronik (e-parking) yang akuntabel. Langkah ini tidak hanya akan mengeliminasi praktik pungutan liar, tetapi juga secara signifikan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tasikmalaya dari sektor retribusi.
“Kami, meyakini bahwa Kawasan Dadaha yang tertib, ramah pengunjung, dan dikelola secara profesional akan menjadi ikon kebanggaan kota. Sekaligus, jadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa bagi Kota Tasikmalaya,”bebernya.
Forsil lanjut Deden. Besar harapannya, kepada Walikota beserta jajaran legaslatif dan eksekutif. Dapat, segera meninjau langsung ke lapangan dan merumuskan solusi konkret atas aspirasi ini. Demi Tasikmalaya yang lebih tertib, nyaman, dan mandiri secara fiskal.(***)

