Dibandingkan Sebelumnya, UPTD SPALD Kota Tasik Kini Ada Peningkatan PAD 81 Persen
Kota.Tasik (kilangbara.com)-Sektor PAD yang dikelola oleh UPTD Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya. Dalam, layanan penyedotan lumpur tinja. Ternyata, pada akhir tahun 2023 ini ada peningkatan sebesar 81 persen. Jika, dibandingkan dengan tahun 2022 yang cuma 73 persen.
“Memang, kita belum bisa mencapai target ditahun 2023 ini sebesar Rp 250 juta lebih. Tapi, ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya,”beber Kepala UPTD SPALD, Supri ST, Rabu (27/12/2023).
Supri menuturkan, pihaknya belum bisa mencapai target 100 persen ditahun 2023 ini. Salah satunya itu, kendala yang paling mendasarnya. Adalah, banyak septic tank warga yang belum memenuhi standar. Karena, banyak ditemukan septic tanknya yang merembes ke tanah. Padahal, septic tank yang standar itu, harus kedap. Sehingga, didalam septic tank itu tidak pernah penuh dan tidak disedot.
“Karena, limbahnya merembes ke tanah dan tidak pernah penuh. Akibatnya, warga tidak melakukan penyedotan tinja. Padahal, limbahnya itu bisa menjalar kemana-mana. Termasuk yang paling fatal masuk ke dalam sumur air,”imbuhnya.
Sehingga, terang Supri. Pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan sosialisasi di 11 Kelurahan. Dalam, sosialisasi tersebut Dinkes terkait ODF dan UPTD SPALD berkaitan dengan septic tank. Pihaknya, membagikan brosur ke warga. Serta juga memberikan edukasi septic tank yang aman. Karena, masih banyak septic tank yang belum memenuhi standar.
Selain itu, memberikan juga pemahaman dan edukasi terkait septic tank itu. Karena, selama ini banyak ditemukan sejumlah septic tank warga yang merembes ke tanah. Akibatnya, secara langsung limbahnya itu bisa menjalar kemana-mana. Termasuk yang paling fatal tersebut, masuk ke dalam sumur air.
Septic tank yang standar itu, harus kedap. Pembuatannya, harus ditembok dinding kiki dan kanan sampai ke lantai. Tapi, kebanyakannya justru difondasinya tidak ditembok. Sehingga, akhirnya merembes ke tanah juga menjalar limbahnya kemana-kamana. Jadi, septic tanknya tidak penuh-penuh dan akhirnya tidak disedot.
“Alhamdulilah, pasca sosialisasi itu ternyata banyak permintaan untuk disedot tinja. Pembuangan tinja itu, diangkut armada dan dibuang ke IPLT. Adapun, sesuai dengan SNI, untuk ukuran 2,1 kubik
1 rumah 5 orang, disedot tinja 3 tahun sekali,”ungkapnya.
Rencana tahun 2024, janji Supri. Pihaknya, akan kembali melakukan road show sosialisasi, dengan sejumlah kelurahan. Adapun, selama ini konsumen yang paling banyak itu adalah rumah warga dan 10 persen merupakan konsumen niaga.
Sedangkan, tarif retribusi sedot kakus dalam Perda Nomor 5 Tahun 2011. Jenis, sedot tinja panjang selang maksimal 0 meter-3 meter Rp 200 ribu/tangki dan sedot tinja panjang selang lebh 10 meter penambahan selang Rp 3 ribu/meter.
“Kita juga ada bantuan pompa dari SNV. Nanti, pada tahun 2024 kami akan usulkan bantuan armada ke APBN. Saat ini, hanya ada 3 armada dan 1 rusak,”ucapnya.(AR)

