Konser HINDIA di Kota Tasikmalaya Sebaiknya Dibatalkan Saja, Hilmi : Karena Bikin Gaduh!
Kota.Tasik (kilangbara.com)-Rencana konser musik yang bertadjuk ruang bermusik. Akan, menampilkan sejumlah musisi muda nasional yang lagi nge-hits. Ternyata, kini telah menjadi sorotan tajam dari ormas islam. Pasalnya, konser yang akan berlangsung di Lanud Wiriadinata Kota Tasikmalaya, Sabtu Minggu 19-20 Juli 2025 tersebut. Panitia, akan mengundang salah satunya itu adalah konser HINDIA.
Sehingga, tak ayal mendapat reaksi keras dari sejumlah ormas islam di Kota Tasikmalaya. Mereka pun, langsung menentang akan kehadiran konser HINDIA tersebut. Bahkan, para ormas itu bergerak mendatangi Mapolres Tasikmalaya Kota. Kedatangannya tersebut, guna untuk menyampaikan aspirasi penolakannya. Terhadap, kehadiran musisi yang penuh kontroversial itu.
“Kami datang ke Mapolres Tasikmalaya Kota. Guna, menyampaikan sebaiknya konser HINDIA tersebut dibatalkan saja. Ada, sejumlah organisasi islam yang menolak itu diantaranya, MUI, Muhammadiyah, Persis, PUI, BKPRMI, DMI, THALIBAN, FPI, MAJELIS MUJAHIDIN, JAS dan lainnya,”ujar Ketua Almumtaz, Ustadz Hilmi Afwan. Saat, dihubungi kilangbara.com, Kamis (10/7/2025).
Hilmi menjelaskan, pihaknya mengaku bukan membatalkan perhelatan ruang bermusik. Namun, meminta agar konser HINDIA saja yang dibatalkan. Sehingga, bagi sejumlah band yang lain silahkan saja tampil. Tapi bagi HINDIA, pihaknya sangat mengharapkan sebaiknya konsernya dibatalkan saja. Karena, sudah jelas membuat kegaduhan dan melanggar norma-norma agama.

Pada dasarnya, pihaknya sebagai bagian dari warga Kota Tasikmalaya tidak ada masalah. Serta, tidak anti musik, tidak anti event, tidak anti konser. Namun, hanya saja semuanya harus memenuhi kriteria kearipan lokal di Kota Tasikmalaya. Karena, kultur Kota Tasikmlaya itu religius islami dengan slogan seribu ulama dan pesantren.
Dirinya, mengutip bahasa Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Aminudin. Salah satunya, konser harus aman secara syar’i, artinya konser HINDIA itu lirik lagunya, biografi dan lainnya bertentangan tidak dengan norma agama. Kemudian, harus aman secara NKRI artinya ketika konser HINDIA itu diselenggarakan. Apakah, dampak buruknya aman tidak atau malah membuat kekisruhan, kegaduhan dan lainnya.
Selanjutnya, harus aman secara regulasi artinya SOP nya prosedurnya sudah ditempuh tidak?nah dari ketiga poin itu semuanya, pihaknya melihat bermasalah
-secara syar’i membahayakn ideologi generasi muda. Apalagi, dengan lirik lagu yang berjudul “MATAHARI”. Sepenggal liriknya itu ditulis, “Ku doakan kita semua masuk neraka”. Selanjutnya, ada simbol mata satu dan ada juga simbol satanisme, bophomet dan lainnya.
“Secara NKRI sudah jelas telah membuat kekisruhan dan kegaduhan. Bahkan, secara regulasi EO belum menempuhnya. Padahal, tiketnya itu konon sudah terjual 6600 tapi prosedur perijinan belum ditempuh,”sesalnya.
Bahkan tutur Hilmi, kalau merujuk kepada kesepakatan dengan asosiasi yang dilaksanakan di Hotel Horison tahun 2023 dulu. Sudah, ada kesepakatan bersama antara ulama, Kadisporabudpar, Polres, Lanud dan DKKT. Bahwa, setiap pagelaran konser band yg menghadirkan band nasional dari luar kota, harus berkoordinasi dahulu dengan MUI, tokoh masyarakat dan koordinasi juga dari bawah ke atas.
“Nah, ini EO dalam ruang bermusik itu tidak menempuhnya. Jangankan koordinasi dengan MUI, toh perijinan ke Polres juga malah belum ditempuh. Mereka malah bilangnya baru mau, hal itu setelah ada reaksi dari para ulama,”herannya.(AR)

